Sampah Makanan dan Dampaknya bagi Lingkungan

Don’t dig your grave with your own knife and fork” – English Proverbs

Kata-kata tersebut berasal dari peribahasa Inggris yang mengandung makna bahwa jangan sampai sesuatu yang kita lakukan malah menimbulkan masalah bagi kita. Bukan hal baru lagi bahwa salah satu masalah yang sangat marak di zaman modern ini adalah masalah sampah makanan. PBB menyatakan bahwa satu dari sembilan orang di dunia tidak memiliki akses terhadap makanan yang layak untuk hidup sehat. Namun di saat bersamaan, hampir 1/3 dari makanan yang di produksi hilang atau dibuang dengan berbagai alasan.

Apa yang menyebabkan terjadinya sampah makanan?

Sampah makanan (food wastage) dibagi menjadi dua, yaitu food waste dan food loss. Food loss pada umumnya terjadi di tingkat produksi karena berbagai penyebab seperti skill mengolah makanan rendah, bencana alam, kurangnya infrastruktur yang memadai, dan praktik pengolahan yang buruk. Sedangkan food waste adalah makanan siap konsumsi yang dibuang karena kesalahan konsumen dalam merencanakan dan menyimpan makanan sehingga banyak makanan yang membusuk atau sudah lewat tanggal kadaluarsa. Food waste bisa juga terjadi karena terlalu banyak penawaran dibanding permintaannya.

Dampak terhadap lingkungan

Apapun alasannya, sampah makanan yang menumpuk kemudian menimbulkan efek negatif baik bagi masyarakat maupun bagi lingkungan. Berikut adalah lima dampak negatif yang disebabkan oleh sampah makanan:

  1. Sampah makanan mengeluarkan gas metana
    Ketika makanan dibuang, pada akhirnya akan menumpuk di tempat pembuangan sampah. Lalu saat makanan-makanan tersebut mulai membusuk, maka gas metana akan dilepaskan ke lingkungan. Gas metana adalah salah satu gas rumah kaca, yang mana adalah salah satu penyebab global warming.
  2. Membuang-buang air
    Air berperan banyak dalam kehidupan, salah satunya dalam makanan. Mulai dari tahap produksi, semua makanan tentu memerlukan air. Air adalah unsur penting dalam agrikultur untuk bercocok tanam. Hewan yang memberi kita daging dan susu juga memerlukan air selama hidupnya. Dengan membuang makanan, kita juga otomatis membuang-buang air yang diinvestasikan dalam pembuatan makanan tersebut.
  3. Membuang-buang minyak bumi
    Hal ini mungkin tidak banyak disadari, tetapi minyak bumi juga berperan penting dalam produksi makanan. Contoh sederhananya adalah dalam bertani, tentu sawah perlu dibajak. Untuk itu digunakanlah traktor yang membutuhkan bahan bakar. Oleh karena itu, dengan membuang makanan maka kita secara tidak langsung ikut membuang minyak bumi, salah satu aset berharga kita.
  4. Menyia-nyiakan tanah
    Penggunaan tanah terkait makanan dibedakan menjadi dua, yakni tanah sebagai lahan produksi dan tanah sebagai tempat pembuangan sampah. Dengan membuang makanan, maka kita tidak hanya menyia-nyiakan tanah yang digunakan sebagai produksi, tetapi juga mengurangi lahan karena memerlukan tempat pembuangan sampah.
  5. Membahayakan biodiversitas
    Hal ini juga tidak secara langsung terlihat, tetapi sampah makanan dapat merusak ekosistem yang ada. Sebagai contoh, food loss karena kurangnya infrastruktur untuk mengawetkan ikan membuat banyak ikan terbuang sia-sia, sehingga ikan akan terus menerus diburu untuk memenuhi kebutuhan. Hal tersebut jelas akan mengganggu ekosistem laut secara umum.

Kesimpulan

Banyak faktor yang dilibatkan dalam produksi makanan. Makanan yang kita makan sudah melewati proses panjang dengan berbagai pengorbanan yang harus dilakukan. Untuk itu maka sebaiknya kita jangan membuang makanan. Hitung dengan baik jumlah makanan yang kita perlukan, dan apabila masih kelebihan maka donasikan makanan tersebut kepada yang membutuhkan.

FOOD LOSS AND FOOD WASTE, bedanya apa ya?

Akhir-akhir ini, isu food waste mulai diangkat dan dikampanyekan di Indonesia. Para millenial mulai concern terhadap isu lingkungan salah satunya adalah isu food waste ini. Namun ada yang masih bingung nih tentang perbedaan antara food loss dan food waste sendiri. Kedua hal ini merupakan sesuatu hal yang berbeda namun apabila keduanya dapat dikurangi dan diatasi maka dapat mencapai Sustainable Development Goals (SDGs) khususnya untuk SDG 2 (Tanpa Kelaparan) dan SDG 12 (Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab). Oleh karena itu langsung saja yuk kita bahas perbedaan food waste dan food loss ini!

Menurut Food and Agricultural Organization of The United Nations (FAO), food loss megacu pada hilangnya sejumlah pangan antara rantai pasok produsen dan pasar. Permasalahan food loss bisa diakibatkan oleh proses pra-panen seperti pangan tersebut tidak sesuai dengan mutu yang diinginkan pasar, permasalahan dalam penyimpanan, penanganan, pengemasan dari pangan tersebut sehingga produsen memutuskan untuk membuang pangan tersebut karena ditolak oleh pasar. Food loss tidak hanya terjadi di negara-negara berkembang, di negara maju angka food loss ini juga cukup tinggi meskipun tidak sebesar yang terjadi di negara berkembang. Food loss yang terjadi di negara berkembang dikarenakan tingginya tingkat produksi pangan di negara berkembang namun tidak diimbangi dengan teknologi yang memadai sehingga sebelum sampai ke tangan konsumen  pangan tersebut ada yang rusak dalam prosesnya maupun tidak sesuai dengan mutu yang diinginkan pasar.

Sedangkan menurut FAO, food waste mengacu kepada makanan yang dibuang dimana produk makanan atau produk makanan alternatif tersebut masih aman dan bergizi untuk dikonsumsi. Jadi food waste sendiri merupakan makanan yang siap dikonsumsi oleh manusia namun dibuang tanpa alasan atau makanan tersebut telah mendekati masa kadaluarsanya.

Di Indonesia sendiri kasus food loss banyak terjadi salah satunya adalah yang terjadi di Banyuwangi dimana para petani buah naga membuang 10 keranjang yang berisikan buah naga yang masih segar ke sungai. Hal ini disebabkan oleh para petani tidak berhasil menjualkan buah naga tersebut ke pengepul karena tidak sesuai dengan mutu yang diinginkan pasar padahal masih layak di konsumsi. Kasus ini terjadi karena minimnya pengetahuan para petani untuk mengolah bahan pangan agar sampai tangan konsumen dan sesuai dengan mutu pasar. Sehingga food loss banyak terjadi di negara-negara berkembang khususnya di Indonesia.

sumber: Barilla Center For Food & Nutrition

Dari infografik tersebut, terlihat bahwa Indonesia merupakan pelaku food waste dan food loss terbesar kedua di dunia setelah negara Arab Saudi. Padahal di Indonesia sendiri kasus kelaparan masih terjadi dimana-mana. 300 kg bahan pangan dan makanan yang terbuang tersebut dapat mengatasi masalah kelaparan di Indoensia apabila didistribusikan dengan benar.

Sudah faham ya perbedaan antara food loss dan food waste ? Ayo Food Warriors teruslah bergerak mengkampanyekan tentang food waste dan food loss ini untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dunia tentang pentingnya mengentaskan permasalahan ini demi tercapainya Sustainable Development Goals (SDGs) Zero Hunger dan Responsible Consumption and Production.

Mari Berpartisipasi untuk Merubah Dunia!

Silakan kontak kami untuk informasi kerja sama atau ingin tahu lebih lanjut tentang Gifood.

Jangan Lewatkan Informasi Terbaru

Daftarkan email kamu untuk mengetahui info tentang rilis aplikasi, acara, dan lainnya dari Gifood.